Budaya Bersih

Belum lama saya membaca salah satu email dalam milis dosen mengenai ruang ujian yang tidak dipersiapkan dengan baik. Sampah kertas dan botol-botol bekas minuman berserakan, kursi yang tidak tertata dengan baik.  Pemandangan ini belum pernah saya jumpai di tempat saya studi saat ini.  Fakultas tempat saya studi (FSKTM) memiliki 3 blok gedung, masing-masing terdiri dari 4 lantai.  Saya amati hanya ada sekitar 4-5 orang petugas kebersihan untuk merapikan gedung-gedung ini.  Tiga diantaranya adalah Mba Ita, suaminya dan ibunya.  Beliau bertiga masih sempat meluangkan waktu untuk ngobrol dengan saya jika saya datang ke fakultas.  Hal yang sama saya jumpai di Graduate School Studies (SGS).  Gedung SGS yang terdiri 2 lantai dan melayani semua mahasiswa pascasarjana di Universitas tempat saya studi hanya dikelola oleh 2 petugas kebersihan, salah satunya adalah Teh Nur dari Subang.  Jika saya datang ke SGS Teh Nur sering menemui saya untuk mengobrol sebentar tentang Indonesia.  Ketika saya tanya apakah pekerjaannya sudah selesai, dia katakan “Kalo jam segini mah (pukul 11-an am.) Nur udah selesai kerja Neng Imas, tinggal menunggu ruangan jika ada pertemuan, nanti pukul 4 siap-siap pulang”.

Saya sering merenung, gedung-gedung sedemikian besar yang dihuni banyak dosen, mahasiswa asing dan lokal hanya dikelola oleh sedikit petugas kebersihan tetapi tetap bersih dan tertata rapih. Kemudian saya amati beberapa hal:

  1. Di kedua gedung itu, tempat sampah besar tersedia dimana-mana, dilengkapi dengan penutup dan plastik sampah besar yang memudahkan Mba Ita dan Teh Nur cs mengambil sampah dan menaruh plastik baru secara rutin.
  2. Mahasiswa tidak diperbolehkan makan di ruang pertemuan/kelas.  Beberapa area makan disediakan di gedung tsb.
  3. Umumnya mahasiswa membawa botol minum ke kampus yang dapat diisi ulang dari dispenser yang tersedia di sudut-sudut gedung. Ini mengurangi sampah botol minuman.
  4. Ini yang penting menurut saya, “Budaya bersih”. Baik mahasiswa, dosen, dan staf pegawai tidak membuang sampah sembarangan.  Sehingga ruangan tetap bersih walaupun tidak disapu atau di pel setiap hari.  Begitu banyak mahasiswa asing di kedua gedung tsb dengan berbagai karakter.  Tetapi lingkungan yang bersih membuat mereka memiliki budaya bersih.

Mengapa hal ini tidak bisa diterapkan di banyak tempat di kampus saya tercinta di Bogor.  Kalau soal menyediakan tempat sampah lengkap dengan plastiknya itu bukan pekerjaan sulit untuk pihak berwenang di kampus Bogor.  Yang sulit sepertinya membiasakan hidup bersih dan menumbuhkan rasa memiliki terhadap fasilitas di kampus tercinta.

Walaupun sulit bukankah harus dicoba… jika tidak kampus tercinta yang dibangun dengan arsitektur yang demikian bagus akan cepat usang karena tidak terawat.  Dan apakah nyaman kita menuntut ilmu di kampus yang ruangan kuliahnya dihiasi dengan serakan sampah…

Ayo kita mulai hidup bersih…:)

Leave a Reply